Archive for September, 2006

Cara Mudah Bekerja di Inggris

Friday, September 15th, 2006

Pemerintah Inggris pada saat ini sedang mengadakan program HSMP (Highly Skilled Migrant Programme). Jadi bagi yang memenuhi berbagai persyaratannya, jadi bisa mendapatkan visa kerja untuk di Inggris.

Ternyata menurut Evi, apply HSMP dari Indonesia pun masih cukup mudah. Simak uraiannya berikut ini :
(sumber: milis uk@indoexpat.org)

From: “Perry Ismangil” To: uk@indoexpat.org
Subject: [indoexpat-uk] Fwd: HSMP tidak susah

Ini ada masukan dari rekan Evi yang mendapat HSMP sejak Jan 2005.
———- Forwarded message ———-
From: toi
Date: Sep 9, 2006 12:15 PM

Halo,
Karena di-refer oleh Pak Perry ke milis ini aku coba jawab ya.
btw: Aku sih tidak bakal lupa karena baik Pak Perry dan Bu Dita dua-duanya sempat jadi dosenku di kuliah Keamanan Komputer dan OOA/OOD
(duh, lupa lagi nama Indonesianya apa)

Jadi begini, HSMP itu tidak susah sebetulnya.

Cuma karena mungkin kurang banyak info tentang cara hidup di UK saja. Contoh 1 dari sisi pembayaran. Di UK untuk bayaran orang biasa memakai cek, postal order (money order). Kalau kita punya rekening di UK, bank bisanya memberi pilihan buku cek juga. Beda ya dengan di Indonesia karena orang jarang pakai cek. Sedangkan postal order, kalau di Indo mungkin sama dengan wesel pos. Kita ke kantor pos dengan sejumlah uang, lalu dikasih kertas postal order berisi nama
dan alamat orang yang bisa menguangkan, lalu dikirim ke alamat orang itu. (Kenapa tahu banyak? Ah, biasa saja, kebiasaan nge-ebay.co.uk)

Jadi kalau dia bilang postal order, di Indonesia kita mesti ke bank minta money order. Di money order mesti ditulis benar nama recipient-nya yaitu “Home
Office, Work Permits (UK)”. Kalau sampai salah, mereka tidak bisa menguangkan, seluruh dokumen bisa dibalikin lagi. Rugi ongkos kirim sekali.

Lihat di http://www.workingintheuk.gov.uk/working_in_the_uk/en/documents/all_forms.Maincontent.0163.file.tmp/HSMPGu28_06.doc

Kalau bank salah cetak kan tinggal kita coret, tulis yang benar, terus tanda tangan.

Tapi paling aman bayar HSMP ya pakai kartu kredit atau kartu debit saja.

Untuk penterjemahan dulu pakai jasanya notaris di kantor hukum depan Gambir. Namanya tentu saja aku lupa lagi. Cari dong di bagian iklan “penterjemah
tersumpah”.

Pembuktian bisa bahasa Inggris dari sertifikat IELTS atau TOEFL. IELTS sangat dianjurkan karena ini british english. Tesnya juga sangat bagus karena mencakup semua sisi yang pasti kita perlukan bukan cuma di kerjaan tapi juga di kehidupan sehari-hari. Yang mengadakan adalah British Council.

Batasan pendapatan setahun paling rendah adalah £5,000 untuk mendapat 25 poin. Ini adalah pendapatan kotor sebelum pajak. Karena di UK, orang iklan gaji
itu adalah per tahun sebelum pajak. Dengan rate sekarang itu sama dengan Rp 85 juta-an, alias kalau dibagi 12 bulan sekitar 7 juta per bulan. Kalau ada bonus, THR, dan segala tambahan lain, tambah saja. Lumayan kan kalau dibagi 13 jadi sekitar 6,5 juta-an.

(background sound: Woooow, jadi gajinya dulu sekitar begitu ya? Hehe, iya, setelah ditambah dinas ke luar kota yang kelewat banyak sampai eneg)

Urusan tabungan di bank berapa sih tidak masalah. Paling perlu kalau kita sudah dapat HSMP dan siap-siap buat visa ke Inggris.

HSMP memang agak tricky, di sisi pendapatan ini. Tapi masih ada celah lain. Pertama di umur, lebih mudah kalau masih di bawah 28 tahun. Tambah 5 poin.

Kedua, jika membawa pasangan yang diharapkan bisa bekerja juga. Yang disebut pasangan di sini adalah suami/istri. Pasangan kumpul kebo juga diakui di UK, tapi kalau orang Indo mengaku kumpul kebo sebaiknya nggak usah dekat-dekat aku deh. Ke laut aja…

Ketiga, kalau punya paper2 atau hasil penelitian.

Apa lagi ya?
Oh ya, lama pemrosesan. Aku kirim akhir Desember 2004 pakai Fedex. Sampai 5 hari di Inggris. Seminggu kemudian balik lagi karena salah nulis nama di postal
order. Tanggal 1 Januari 2005, aku kirim balik lagi (lupa, ini kirim pertama atau kedua, mesti lihat diary - bukan blog). Tanggal 29 Jan 2005 semua dokumen
sudah balik lagi. Tentu saja mencak-mencak, dikira apa lagi ya yang kurang. Ternyata Alhamdulillah, di dalamnya sudah ditambah kertas bahwa HSMP sudah disetujui tanggal 20 Januari 2005. Tiga bulan setelah itu harus sudah di UK.

Jadi pengurusannya tidak lama sebetulnya. Atau karena itu musim-musim sepi ya?

–evi


Perry Ismangil

Mailserver on Ubuntu 6 (Dapper Drake)

Thursday, September 14th, 2006

Should be pretty easy huh ? Well, not really… there’s one glitch with Exim4 — by default, it delivers email to “mail_spool”, as can be seen from the /var/log/exim4/mainlog here :

=> wanto <wanto@kantor> F=<harry @kantor> P=<harry @kantor> R=local_user T=mail_spool

Incoming email ended up never arrived in my users Maildir.

The solution :

  1. Edit /etc/exim4/update-exim4.conf.conf : gedit /etc/exim4/update-exim4.conf.conf
  2. Add the following line at the end of it : dc_localdelivery=maildir_home
  3. Shutdown Exim4 : pkill exim4
  4. Reconfigure Exim4 : dpkg-reconfigure exim4-config
    (Follow the guide below if you’re confused what to answer on the questions)
  5. That’s it ! Now incoming email will be delivered to your users’ Maildir

I’ve setup this particular server so users can send and fetch email locally.

Email for external destination (Internet) will be relayed through a smarthost. This makes sending huge email very speedy. So they can return to their work quickly and happy (leaving this server working hard trying to send their multi-megabyte emails through a tiny internet pipe *grin* )

With help from Dovecot, they can also send email to each other by [my_name]@office email addresses. This saves me from the headache of setting up a file server AND controlling the access rights.

To set it up this way, follow these steps :
(disclaimer: this is from on top of my head, so please CMIIW)

  1. aptitude install exim4 exim4-config dovecot-pop3d
  2. When configuring Exim4, follow these steps :
  3. Split configuration into small files? NO
  4. General type of mail configuration: (there are 6 choices) : mail sent by smarthost; received via SMTP or fetchmail
  5. System mail name: Whatever, mine is “office
  6. IP-addresses to listen on for incoming SMTP connections: Leave this blank
  7. Other destinations for which mail is accepted: I entered office again here
  8. Machines to relay mail for: Enter your LAN network, mine is 192.168.10.0/24
  9. Machine handling outgoing mail for this host (smarthost): smtp.gmail.com, or whatever works for you
  10. Hide local mail name in outgoing mail? YES
  11. Visible domain name for local users: Set to your company’s internet domain name, example : ToughNut.com
  12. Keep number of DNS-queries minimal (Dial-on-Demand)? Up to you really, I chose NO because my company got a fixed (always-on) internet access
  13. Once everything done, Exim4 and Dovecot will be running. But there’s still one thing left to configure - the smarthost
  14. Setup the Smarthost (relay for external/internet email) :

    # gedit /etc/exim4/passwd.client
    # Then put something like this : smtp.gmail.com:my-email@gmail.com:mypassword

  15. Restart exim4 :

    pkill exim4
    invoke-rc.d exim4 start

Done ! Now your mailserver is functioning.

On your users’ computer, set up as follows :

  • SMTP server : office
  • POP3 server : office
  • POP3 username : Their username in that server
  • POP3 username : Their password in that server

Enjoy.

Google Co-op - a better DMOZ ?

Thursday, September 14th, 2006

While browsing Google Blog, I found out about Google Co-op from the blog entry made by GOOG_DOC on Google Blog. At a glance, it may seem that Google is creating a competitor to DMOZ.

Well, not really. In short, Google Co-op is DMOZ on steroid.

On top of that, anyone can become a contributor (an equivalent of editor in DMOZ); which means more freedom for us to choose our source of information.

More on these later, let’s see how we can utilise this, shall we.

How to use Google Co-op :

  1. Get a Google account. If you haven’t got one, you can register for a Gmail account. Or click here.
  2. Go to Google Co-op Directory
  3. Browse to the topic that interest you, and subscribe to any contributor that you feel will benefit you

That’s it ! Now whenever you’re doing search on the topic, you’ll see links from your Google Co-op subscription(s) on the top of the search results. These are links which are supposed to be highly relevant to your query.

So with Google Co-op, you may be able to find the results you’re looking for straight away; instead of looking at 1,483,552 of the results one by one.

You can also contribute to it.

I gave this a try with the “Indonesia” topic. Since it didn’t exist, I had to create the topic first. Here’s the file I submitted to Google Co-op to create the Indonesia topic :

<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<TopicSearchDefinition version="0.9">
<Title>Indonesia</Title>

<Context id="country">
<Title>Indonesia</Title>
<Facet>
<Title>Facts</Title>
<FacetItem>
<Label name="for_researchers"/>
<Title>For researchers</Title>
</FacetItem>
<FacetItem>
<Label name="fun_facts"/>
<Title>Fun facts</Title>
</FacetItem>
</Facet>
<Facet>
<Title>News</Title>
<FacetItem>
<Label name="in_english"/>
<Title>In English</Title>
</FacetItem>
<FacetItem>
<Label name="in_indonesian"/>
<Title>In Indonesian</Title>
</FacetItem>
</Facet>
<BackgroundLabels/>
</Context>

<TopicSearchTriggers>
<DataObject id="indonesia-facts" type="facts">
<QueryName value="indonesia facts"/>
<QueryName value="indonesia data"/>
</DataObject>
<DataObject id="indonesia-news" type="news">
<QueryName value="indonesia news"/>
<QueryName value="events indonesia"/>
<QueryName value="breaking news indonesia"/>
</DataObject>
<Query>[facts]</Query>
<Query>[news]</Query>
<Query>about [facts]</Query>
<Query>learn about [facts]</Query>
<Query>teach about [facts]</Query>
</TopicSearchTriggers>
</TopicSearchDefinition>

After creating a new topic for Indonesia, now we can start submitting links on that topic :


<Annotations file="indo-anno.xml">
<Annotation about="http://thejakartapost.com/*">
<Label name="in_english"/>
<Comment>The Jakarta Post - biggest Indonesian newspaper in English</Comment>
</Annotation>

<Annotation about="http://www.antara.co.id/en/*">
<Label name="in_english"/>
<Comment>Antara News</Comment>
</Annotation>

<Annotation about="http://detik.com/*">
<Label name="in_indonesian"/>
<Score>1.0</Score>
<Comment>Detik.com - biggest Indonesian online news site</Comment>
</Annotation>

<Annotation about="http://www.antara.co.id/*">
<Label name="in_indonesian"/>
<Comment>Antara News</Comment>
</Annotation>

<Annotation about="http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia">
<Label name="fun_facts"/>
<Label name="for_researchers"/>
<Score>0.9</Score>
</Annotation>

<Annotation about="http://countrystudies.us/indonesia/3.htm">
<Label name="for_researchers"/>
</Annotation>

<Annotation about="https://www.cia.gov/cia/publications/factbook/geos/id.html">
<Label name="for_researchers"/>
<Score>0.7</Score>
</Annotation>

<Annotation about="http://www.zilvan.com/funnyfacts/facts_about_indonesia.htm">
<Label name="fun_facts"/>
</Annotation>
</Annotations>

As you can see, you can put a lot of information in Google Co-op, which is not possible with DMOZ. But of course they have their own strength - DMOZ is simpler to contribute to.

My profile can be viewed here.

Google Co-op is probably the Google’s implementation of the Semantic Web, the next generation of Web as envisioned by Tim Berners-Lee, the inventor. Whatever it is, I found it interesting, and I’ll be keeping watch on it.

Google Co-op is an open service which require quite an effort to contribute in. As the result, there isn’t much in it as yet. But as more people found and use it, and found that you can easily annotate websites with Google Marker, then we may start seeing surprises in the future from this service.

Banned Books on Google

Wednesday, September 13th, 2006

In fascist regimes, books can be banned. We have had some in Indonesia. But do you know that there are banned books in USA ? Go figure :) banned books in the “most democratic” country. Blasphemy.

Anyway, now we can enjoy these books, courtesy of Google. Well done Google !

Author Gravatar For WordPress

Tuesday, September 12th, 2006

I was looking to show gravatar (photos) on the author’s post on a WordPress website. I looked around, but most WP plugins are designed to show gravatar on the comments, not on the actual post.

There are hacks around for this, but they seemed too complicated for this simple task.

One had the promise, but strangely ended up not working.

In the end, I’ve had enough, and delved into WP’s source code. Lo and behold, it’s actually pretty easy. Just insert this in main template’s code, and voila — author’s photo.

<img src="http://www.gravatar.com/avatar.php?gravatar_id=<?php global $authordata; echo md5($authordata->user_email); ?>" />

Hope it helps someone.

(credit to tyr for the idea)

TCCO - Daftar SLJJ dan SLI Murah

Tuesday, September 12th, 2006

Pagi hari ini saya menerima sebuah SMS dari seorang kawan, menanyakan solusi SLJJ dan SLI. Jawaban saya tadi pagi singkat saja, karena via SMS. Tapi kemudian saya terpikir, apakah mungkin ada alternatif-alternatif lainnya ? Setelah saya cari tahu lebih lanjut, ternyata ada.

Terlampir berikut ini adalah berbagai alternatif untuk SLJJ dan SLI yang murah.
Jika Anda ada informasi lainnya, silahkan berkomentar disini.

S L J J (Sambungan Langsung Jarak Jauh)

  1. Fren : Rp 14 / menit

    Kekurangan:
    1. Hanya di Pulau Jawa & Bali
    2. Tarif menit pertama Rp 550 (prabayar) / Rp 400 (pascabayar)

  2. Esia : Rp 50 / menit

    Kekurangan:
    1. Coverage baru mencakup Jakarta/Bandung/Bogor

  3. VoIP Rakyat: Gratis

    Kekurangan:
    1. Hanya kepada sesama pengguna VoIP Rakyat / dari telpon (biasa/HP) ke VoIP Rakyat.
    2. Butuh koneksi Internet

  4. Skype : Gratis

    Kekurangan:
    1. Hanya kepada sesama pengguna Skype, selain itu membayar.
    2. Butuh koneksi Internet
    3. Lebih lambat daripada VoIP Rakyat

S L I (Sambungan Langsung Internasional)

  1. Skype : Gratis

    Kekurangan:
    1. Hanya kepada sesama pengguna Skype, selain itu membayar.
    2. Butuh koneksi Internet

  2. Esia : Rp 1500 / menit

    Kekurangan:
    1. Koneksi ke 53 negara

  3. Gizmo Project : Gratis

    Kekurangan:
    1. Koneksi ke 60 negara, selain itu membayar
    2. Perlu akses Internet

  4. Internetcalls.com : Gratis

    Kekurangan:
    1. Butuh koneksi Internet
    2. Ke 29 negara (selain itu membayar)
    3. Max. 300 menit / minggu
    4. Harus beli credit (top up) terlebih dahulu (namun tidak dikurangi untuk tujuan yang gratis)

Semoga bermanfaat.

Mencegah dibajaknya Domain name para Menteri

Sunday, September 10th, 2006

Akhirnya yang saya cemaskan mulai nampak - mulai ada yang menyadari akan nilai dari domain name para pejabat.

Untuk menghindari representasi digital para Menteri ini dari diserobot oleh pihak-pihak yang tidak beritikad baik, maka barusan saya sudah mendaftarkan domain name berikut ini ke account saya :

adhyaksadault.com
bachtiarchamsyah.com
bambangsudibyo.com
djokokirmanto.com
ermansuparno.com
fahmiidris.com
freddynumberi.com
hamidawaluddin.com
hassanwirajuda.com
hattarajasa.com
jerowacik.com
kusmayantokadiman.com
maftuhbasyuni.com
meuthiahatta.com
mmaruf.com
mskaban.com
paskahsuzetta.com
purnomoyusgiantoro.com
rachmatwitoelar.com
sitifadilah.com
sofyandjalil.com
srimulyani.com
suryadharmaali.com
syaifullahyusuf.com
taufikeffendy.com
widodoas.com

Perhatikan bahwa itikad saya baik, yaitu mencegah domain name ini dari diserobot oleh para oknum; agar kasus-kasus, seperti disanderanya domain gusdur.com sebesar Rp 1 milyar, tidak terulang lagi.

Bagi para Menteri yang ingin mengklaim domain namenya, saya akan memberikannya GRATIS. Cukup hubungi saya (yang paling mudah adalah dengan berkomentar di posting ini), maka saya akan menyerahkannya tanpa biaya bagi ybs sama sekali.

Pertemuan dengan Menteri Perumahan, seorang blogger yang antusias

Wednesday, September 6th, 2006

Kemarin siang (6 September 2006) sekitar pukul 13:45 saya tiba di gedung Menpera. Berlokasi di dekat Mabes Polri dan kompleks sekolah Al-Azhar Pusat, kantor tersebut juga bersebelahan dengan kompleks kantor PU (Pekerjaan Umum), sebuah instansi yang terkait erat dengan Kemenpera (Kementrian Negara Perumahan Rakyat). Saya tiba bersama seorang wartawan senior yang membantu dalam soal kualitas artikel yang diposting (karena profesi Menpera sehari-hari memang bukan penulis profesional), dimana saya lebih berkonsentrasi ke soal teknis dan juga memberikan masukan-masukan seputar blog itu sendiri. Sekitar pukul 14:00 kami diterima untuk menemui Bpk. Yusuf Asy’ari, Menteri Perumahan Rakyat di kantornya.

Kesan pertama yang kami dapatkan dari beliau adalah sosok yang ramah dan hangat. Tidak ada tersirat kesan jaga wibawa atau ingin dihormati berlebihan - dimana banyak pejabat pada posisi jauh dibawah beliau justru banyak yang seperti ini. Pembicaraan segera mengalir dengan lancar.

Saya sebagai salah satu rakyat Indonesia mengucapkan banyak terimakasih atas kesediaan beliau untuk membuka diri kepada kita semua melalui blognya. Beliau menjawab bahwa justru beliaulah yang berterimakasih, karena beliau sudah cukup lama mencari-cari cara yang feasible untuk berkomunikasi dengan rakyat. Blog telah memungkinkan ini terjadi - komunikasi langsung antara pejabat dengan rakyat, tanpa ada perantara sama sekali. Suatu terobosan yang sangat luar biasa, apalagi jika kita mengingat bahwa baru beberapa tahun yang lalu interaksi rakyat dengan pejabat biasanya adalah dalam bentuk seperti pertemuan antara presiden dengan kelompok tani, yang telah diatur skenarionya sebelumnya :-)

Beliau bercerita mengenai berbagai hal yang telah dilakukannya selama ini, termasuk berkunjung langsung ke nyaris semua propinsi di Indonesia. Juga berbagai proyek dan rencana Kemenpera yang cukup mengesankan, walaupun kendala yang dihadapi departemen beliau untuk merealisasikannya juga besar. Saya kemudian mengatakan bahwa kami selama ini hampir tidak tahu sama sekali mengenai semua itu. Beliau tercenung sebentar, dan kemudian berkata itulah salah satu masalah yang mereka hadapi - komunikasi dengan rakyat. Beliau kemudian tersenyum dan menyampaikan harapannya bahwa blog akan dapat banyak membantu dalam hal ini.

Sebuah pertanyaan dilemparkan kepada saya, apakah beda website dengan blog? Saya jelaskan, bahwa blog (singkatan dari weblog) adalah salah satu bentuk website. Kelebihan blog dari website konvensional ada beberapa; seperti kemudahan update, fasilitas interaktif yang mudah digunakan, dan kemudahan pemakaiannya. Belakangan beliau menunjukkan situs Kemenpera yang agak jarang di update, yang bisa dimaklumi karena mendesain CMS (Content Management System) yang bagus memang bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Saya kemudian mengajukan usulan untuk memanfaatkan blog sebagai sarana konsultasi berbagai kebijakan Kemenpera dengan rakyat. Dengan memposting sebuah draft kebijakan di blog, maka diharapkan akan dapat banyak masukan langsung dari rakyat, yaitu pihak yang akan merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Ini adalah salah satu aspek eGovernment (consultative process) dan kebetulan adalah salah satu hal yang saya garap dalam proyek 5 tahun eGov di Pemda Birmingham. Sejenak beliau terlihat berpikir, dan kemudian dengan antusias menerima ide tersebut.
Beliau juga bertanya apakah blog bisa dijadikan untuk sekali-sekali posting personal beliau ? Yang kami jawab dengan “tentu saja” :-) Kalau demikian, tutur beliau, jangan juga terlalu berharap akan bisa sering muncul posting seperti ini, karena kesibukannya yang luar biasa. Tapi sekali-sekali insyaAllah akan ada.
Jadi, mari kita tunggu bersama posting-posting yang merupakan tulisan pribadi beliau, bukan sebagai Menteri atau salah satu pejabat departemen.

Pertemuan dilanjutkan dengan menunjukkan cara membalas komentar di blog dan cara membalas email. Ya, Menpera berencana untuk membalas sendiri berbagai komentar di blognya ! Sempat bingung juga bagaimana cara untuk menunjukkan ini :-)
Alhamdulillah, beliau ternyata adalah seorang fast-learner. WordPress juga untungnya cukup mudah untuk digunakan, bahkan oleh seorang Menteri sekalipun. Saya hanya perlu menunjukkan satu kali saja cara membalas komentar - lalu belakangan setelah saya kembali ke kantor, ternyata sudah ada satu lagi komentar yang dibalas sendiri oleh beliau. Cukup mengesankan.
Satu orang lagi yang beruntung malah telah dibalas komentarnya langsung melalui email pribadi ybs (silahkan bagi yang beruntung bisa berkomentar disini :-) )

Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya, apakah SBY telah secara khusus menginstruksikan menteri-menterinya untuk berkomunikasi dengan rakyat ? Jawab beliau, secara khusus tidak ada. Namun, SBY secara jelas telah memerintahkan kami untuk mengutamakan dan memperhatikan rakyat. Maka inilah (blog beliau) salah satu realisasinya.

Agenda pertemuan telah hampir selesai, dan kami bercakap-cakap mengenai beberapa topik ringan. Di antara pembicaraan tercetus oleh kawan saya bahwa ada sebuah rumah susun di Cakung yang kosong. Beliau langsung dengan serius mendengarkan, dengan terus terang tanpa segan mengaku baru mendapatkan informasi ini, dan akan beliau tindak lanjuti. Setelah berpamitan, kami pergi meninggalkan kantor Menpera dengan terkesan. Kami sepakat untuk membantu institusi beliau, dalam segala keterbatasan kami, untuk dapat menghasilkan lebih banyak lagi karya nyata bagi rakyat Indonesia.

Mari kita dukung gerakan menteri nge-blog !

Selamat datang di Blogosfer Indonesia, Pak Menteri.

Sunday, September 3rd, 2006

Alhamdulillah, satu lagi Menteri kita telah bergabung menjadi bagian dari komunitas blogger Indonesia.

Bapak Yusuf Asy’ari, Menteri Perumahan Rakyat, telah meluncurkan blognya minggu lalu, sebagaimana dilaporkan oleh Budi Putra dan bloggers lainnya.

Sepertinya komunitas blogger Indonesia memang sedang dirundung duka; dimana sebelumnya Bunda Zidan wafat pada tanggal 31 Agustus 2006, ternyata sebelumnya lagi Ibunda dari Menpera juga telah wafat pada tanggal 28 Agustus 2006.

Namun pada tanggal 30 Agustus beliau telah kembali meneruskan tulisan di blognya, dengan posting yang berjudul Laju pertumbuhan kota bebani kebijakan perumahan.

Quoted:

Daerah kumuh, perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pegawai negeri sipil dan anggota TNI dan Polri adalah beberapa saja dari fokus penting program kantor Menpera. Berbagai upaya memberikan perumahan layak bagi kelompok-kelompok masyarakat ini, yang menjadi amanah bagi pemerintah, masih kerap terhambat karena berbagai kesulitan. Termasuk di dalam kesulitan ini adalah keterbatasan anggaran, baik APBN maupun APBD, masih kurangnya subsidi maupun tingginya biaya tambahan yang disebabkan pengurusan berbagai perijinan.

“Ini menjadi amanah bagi kita semua, karena kalau untuk orang kaya, biar diserahkan kepada pasar. Sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah, kadang-kadang untuk mengumpulkan uang muka saja tidak mampu,” demikian Yusuf .

I like what I’m seeing there :)

Sekali lagi, selamat datang Pak Menteri, dan maju terus demi rakyat Indonesia. Bravo !

Telah wafat: Bunda Zidan

Friday, September 1st, 2006

Siang ini dengan terkejut saya membaca sebuah email dari milis IMB : Bunda Zidan, blogger Indonesia di Singapura, telah wafat. Beliau meninggalkan 2 orang anak dan suami.

Menengok blognya dan perlahan-lahan membaca berbagai posting yang ada disitu, saya merasa merinding… sadar bahwa pemiliknya kini sudah tidak ada lagi. Bunda Zidan sepertinya adalah blogger yang care dan selalu membawa kegembiraan ke sekitarnya.

Selamat jalan Bunda Zidan, semoga Anda bahagia selalu di tempat Anda yang sekarang.

Runutan kejadian :

  1. 30 Agustus : Pingsan setelah serangan asma yang menyebabkan kesulitan bernafas sampai sekitar 30 menit. Diperkirakan supply oksigen ke otak sempat drop sampai kritis. Kondisi koma.
  2. 31 Agustus : Artikel2 tentang Bunda Zidan.
  3. 31 Agustus : Kondisi semakin buruk
  4. 31 Agustus : Bunda Zidan wafat

Foto : Zidan dan Syifa

Zidan & Syifa