Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::needs_upgrade() should not be called statically in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 113

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::stale() should not be called statically in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 179

Strict Standards: Non-static method FeedWordPress::update_requested() should not be called statically in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-content/plugins/feedwordpress/feedwordpress.php on line 184
Tech @ Sufehmi.com

Wordpress, dan blogging, di Indonesia

January 18th, 2009

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Satu acara yang saya terpaksa lewatkan dengan penuh sayang adalah Wordcamp Indonesia. Tapi namanya deadline harus dikalahkan terlebih dahulu. Jadi saya gembira sekali ketika ada laporannya di blog Kun.co.ro.

Beberapa informasi yang menarik :

  1. B.Indonesia menduduki rangking ke #3 di Wordpress.com, hanya kalah dari b.Inggris & Spanyol
  2. B.Indonesia adalah yang tumbuh tercepat nomor #2 di Wordpress.com
  3. Pengguna Wordpress.org dan Wordpress.com cukup berimbang : ini kejutan yang cukup menarik. Ternyata cukup besar pengguna Wordpress yang bisa memasangnya sendiri (download dari wordpress.org, lalu setup)

Banyak kesimpulan menarik dan potensi peluang yang bisa ditarik dari beberapa data ini.
Satu contoh, jika traffic Wordpress.com dari Indonesia menyamai traffic Detik.com (dan mengalahkan Kompas.com), maka dengan data dari poin 3 - berarti traffic Wordpress.com DAN Wordpress.org bisa 2x lipat dari traffic Detik.com. Wow.

Inilah kekuatan platform blog yang dimungkinkan dengan software open source. Beberapa dari kita mungkin masih ingat bagaimana blog dulu tidak terlalu meledak ketika toolsnya masih proprietary dan/atau mahal dan/atau tidak terbuka. Kini ketika platform blog telah dibebaskan dengan berbagai software blog open source yang nyaman digunakan, maka kita semua yang meraup manfaatnya.

Terus nge-Blog ! :)

Harry Sufehmi & Opensource

January 17th, 2009

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Blog saya adalah sebuah blog yang dikenal dengan istilah “blog gado-gado”. Segala macam bisa Anda temukan disana :D
Mulai dari pemikiran, curhat, review, artikel teknis, pengalaman hidup, dan lain-lainnya. Pokoknya gado-gado betul. Betulan segala macam bisa Anda temukan disana.

Termasuk, ternyata, ada banyak artikel seputar Open Source disana. Namun, mungkin selama ini tenggelam di tengah keriuhan berbagai artikel lainnya. Saya sendiri kadang agak kesulitan untuk menemukan artikel Open Source tertentu di blog tersebut, he he ;)

Karena itu barusan saya sudah membuatkan blog khusus untuk topik ini, dengan nama yang sama sekali tidak kreatif :DOpensource @ Sufehmi.com
Disini Anda akan bisa menikmati semua artikel-artikel saya seputar Opensource dengan nyaman.

Enjoy !

Virus di Linux

January 11th, 2009

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Salah satu pertanyaan lainnya yang paling banyak ditanyakan di berbagai seminar mengenai Open Source / Linux adalah tentang virus - apakah ada virus di Linux ?

Secara teknis, ya, ada virus di Linux. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Namun itu belum menjelaskan - karena SEMUA sistim komputer pasti bisa dibuatkan virusnya. Yang lebih penting untuk diketahui adalah kemudahan penularannya. Karena jika ada banyak virus, namun tidak menyebar, maka sama saja seperti dengan tidak ada virus kan?

Karena itu mari kita ubah pertanyaannya :
Apakah mudah bagi virus untuk menyebar di Linux ?

Jawabannya : Tidak :)
Bagi seekor virus, sangat sulit untuk menyebar di platform Linux.
Apalagi sampai pada level epidemik, dimana bisa ada jutaan komputer yang terinfeksi setiap harinya. Ini akan sangat sulit terjadi di Linux, dan memang belum pernah ada yang berhasil melakukannya.

Terlampir adalah sebuah email diskusi soal ini dengan kawan saya :

menurut saya linux tidak kebal terhadap virus, hanya bedanya dengan
windows:
- windows sudah lebih banyak yang pakai (pembuat virus tentu saja ingin
“ketenaran” semakin banyak yg terinfeksi akan membuatnya lebih bangga)
- varian linux terlalu banyak –> capek bikin virus yang bervariasi per
distro

beberapa reference:
http://www.desktoplinux.com/articles/AT3307459975.html
http://www.theregister.co.uk/2003/10/06/linux_vs_windows_viruses

Artikel2 ini sudah dibuat sejak tahun 2003. Dan saat ini (desktop) Linux jelas sudah JAUH lebih populer daripada 5 tahun yang lalu - sehingga mustinya sudah jauh lebih menarik untuk menjadi target .

Pertanyaannya: dimana virus Linux ? :)

Ada beberapa penyebab kenapa virus sulit berkembang di Linux :

(1) Secure default install : closed services :
Berbagai distro Linux sekarang sudah jauh lebih bijak daripada 5 tahun yang lalu. Misalnya, default install Ubuntu bahkan tidak menjalankan SSH server. Default install berbagai distro Linux sekarang tidak ada menghasilkan open listening port.

(2) Secure default install : non-admin default access :
Berbagai distro Linux sekarang mempraktekkan hal ini dengan baik, dan berimbang dari segi kemudahan vs keamanan : dengan implementasi sudo, maka sehari2 user bisa bekerja dengan produktif dengan aman karena bukan sebagai root user.

(3) Application-level firewall :
Merupakan software terpisah di Windows — di beberapa distro ini adalah layanan yang sudah disertakan secara default. Misal: AppArmor di Suse/Imunix/Ubuntu/dll.

App-firewall kini makin penting, karena makin banyak security hole di aplikasi yang di eksploit — bukan lagi di level operating system.

Dan masih ada beberapa hal lainnya.
Bagi pemerhati topik computer security, sangat menggembirakan melihat bahwa ada tindakan-tindakan proaktif dari berbagai vendor Linux. Dan karena disandarkan pada pondasi security yang solid, Unix/Linux, maka hasilnya juga cukup menggembirakan.
Yaitu tercapainya keseimbangan antara security dengan kemudahan pemakaian.

Menilik semua faktor tersebut, saya kira akan sulit bagi sebuah virus untuk dapat berkembang sampai ke level epidemik — sebagaimana yang terjadi dengan berbagai virus di platform Windows.

Salam, HS

Satu lagi pendapat yang menarik adalah dari John Stewart, Chief Security Officer Cisco. Pada pidatonya di konferensi AusCERT 2009, John menyatakan bahwa karena anti-virus yang ada tidak efektif (komputer tetap bisa terinfeksi), maka sebetulnya sia-sia / tidak ada gunanya.

Dikutip :

By Liam Tung, ZDNet Australia
Posted on ZDNet News: May 21, 2008 5:41:27 AM

Companies are wasting money on security processes–such as applying patches and using antivirus software–which just don’t work, according to Cisco’s chief security officer John Stewart.

Speaking at the AusCERT 2008 conference in the Gold Coast yesterday, Stewart said the malware industry is moving faster than the security industry, making it impossible for users to remain secure.

“If patching and antivirus is where I spend my money, and I’m still getting infected and I still have to clean up computers and I still need to reload them and still have to recover the user’s data and I still have to reinstall it, the entire cost equation of that is a waste.

“It’s completely wasted money,” Stewart told delegates. He said infections have become so common that most companies have learned to live with them.

Jadi kuncinya adalah pencegahan. Jika suatu sistem sulit untuk ditembus, maka virus akan sulit untuk bisa menyebar. Dan pada pembuat virus pun jadi kehilangan minat.

Dengan menggunakan Linux, kita sudah secara efektif memblokir berbagai macam virus / trojan / spyware. Kita jadi bisa bekerja dengan tenang tanpa perlu memusingkan soal virus lagi. Sangat menyenangkan bukan ?

DompetJebol.com

December 22nd, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Ketika sedang memeriksa Kronologger.com, saya baru menyadari keberadaan sebuah link - DompetJebol.com ? Apa itu ?

Dari frontpage nya, DompetJebol.com adalah :

Layanan microblogging gratis yang berguna untuk mencatat data pengeluaran anda sehari - hari. Posting setiap pengeluaran anda dan lihat apa komentar orang lain.

Is this what I’ve been looking for years …..??

Sejak masih menggunakan Franklin REX PC, kemudian Psion 5mx, dilanjutkan dengan Nokia Communicator 9210, lalu Nokia Communicator 9500 dan kini Nokia E70 dan laptop saya; selalu berusaha untuk mencatat pengeluaran saya di PDA / smartphone / laptop saya.

Semua usaha ini selalu gagal, karena semua software yang saya temukan berbelit-belit dan/atau tidak praktis untuk digunakan dan/atau memiliki berbagai keanehan.
Akhirnya selalu mengandalkan ingatan saja. Namun, kadang jadinya ada yang terlupa untuk dicatat.

Bagaimana dengan DompetJebol.com ?

Posting / mencatat pengeluaran : melalui http://dompetjebol.com/m/posting.php, muncul halaman yang ringkas dan hemat bandwidth. Nyaman diakses dari handphone.

Kita memasukkan data-data yaitu (1) jumlah pengeluaran (2) kategori pengeluaran (3) keterangan, dan klik tombol “Posting”.
Yeesssssss! Super mudah & cepat :D

Rekap / laporan pengeluaran : cukup klik di link Journal-Ku

Maka kemudian akan muncul total pengeluaran selama ini, hari ini, dan bulan ini. Berikut dengan detail selengkapnya.
Dan tetap dalam format yang ringkas, sehingga cepat diakses dari handphone / pda.

That’s it ! Simple & to the point.

Saat ini DompetJebol.com sudah di bookmark di handphone saya :)

Mudah-mudahan nantinya bisa juga di update via sms, misal : “kron post DJ 250000 beli cemilan” ;)

Terimakasih sekali lagi kepada Kukuh untuk aplikasi web nya yang bisa membantu saya. Mungkin ada beberapa masukan kecil saja untuk DompetJebol.com :

(1) Tags : pada saat ini pengeluaran dipilah berdasarkan kategori yang sudah fixed. Mungkin bisa juga alternatifnya adalah berdasarkan tags, yang bisa di definisikan sendiri oleh masing2 pengguna

(2) JurnalKu : pada saat ini belum ada pilihan tampilan per Kategori (atau tags, jika nanti ada fasilitas tags). Yang sudah ada adalah total semua, total bulan ini, dan total hari ini.

Semoga situs ini bisa terus semakin sukses !

Open Source Software : Terbuka, jadinya tidak aman ?

December 15th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Hampir pada setiap seminar open source saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Mulai dari yang lugas & tanpa basa-basi (halo Medan!), sampai yang menanyakan “udang di balik batu” dari gratisnya software Open Source :)
Salah satu yang paling berkesan adalah pertanyaan dari seorang peserta yang kebingungan : “kalau source code programnya dikasih, gimana datanya bisa aman?”

Para peserta kemudian mulai bergumam satu dengan lainnya. Mungkin mereka menganalogikan software seperti rumah, dan data seperti isi rumahnya ya. Kalau pintu rumahnya terbuka - bagaimana isi rumahnya mau aman ?

Dan pertanyaan ini bukan cuma muncul satu-dua kali. Salut sekali bisa ada banyak yang mampu berpikir kritis seperti ini. Mereka langsung bisa menyadari hal yang paradoks / bertolak belakang ini.
Kita perlu lebih banyak lagi orang-orang yang bisa berpikir - dan bukan cuma menelan mentah-mentah semua perkataan orang lain.

Saya ucapkan terimakasih untuk pertanyaan tersebut, dan kemudian mulai menjelaskan.

Dimulai dari fakta. Bahwa, beberapa software paling aman di dunia justru adalah yang open source.
Seperti OpenBSD, sistim operasi yang sangat terkenal dengan securitynya. OpenSSH, yang memungkinkan kita mengontrol server-server kita dari jarak jauh dengan sangat aman. Juga jangan lupa OpenSSL, yang memungkinkan jutaan transaksi elektronik setiap hari berjalan tanpa was-was.

Nampak beberapa wajah terkesiap di tengah hadirin. Aneh lho, softwarenya terbuka, tapi kok bisa tetap aman ya?

Saya tersenyum, dan kemudian melanjutkan dengan penjelasan dari fakta tersebut. Agak sulit, karena audiens saya awam / non-teknis, jadi saya musti mencoba jelaskan dengan sesederhana mungkin.
Nah, karena kebetulan audiens kali ini adalah kalangan akademis, jadi saya pakai analogi jurnal ilmiah.

Saya jelaskan, bahwa jurnal ilmiah yang bagus itu adalah yang ada peer review nya kan? Banyak kepala mengangguk, tapi masih bingung apa maksud saya dengan menyebutkan ini.
Jadi saya lanjutkan - bahwa software pun demikian. Jika banyak yang melakukan peer review terhadap software ybs; maka kualitasnya pun juga akan jadi bagus.
Dan, ini bisa terjadi pada software open source, karena source codenya tersedia.

Serempak ada terdengar nada “Oooh” dari hadirin :)

Berbagai software open source, terutama yang berurusan dengan soal enkripsi data / cryptography, di review dengan sangat ekstensif oleh para pakarnya. Algoritma cryptography yang bagus memang di desain agar walaupun algoritma dan softwarenya terpublikasi secara luas, namun datanya sendiri tetap aman.

Keterbukaan di open source juga menyebabkan satu fenomena menarik lainnya — jika ada ditemukan security hole, maka biasanya bisa ditutup dengan sangat cepat.
Ini karena semua orang bisa turut berkontribusi untuk membuatkan solusinya.

Berbeda sekali dengan software proprietary, dimana kita musti menunggu vendor ybs dulu untuk membuatkan solusinya. Sementara infrastruktur IT kita sedang diserang melalui security hole tersebut. Beberapa kali kejadian security holes di software proprietary belum juga di patch walaupun sudah diketahui keberadaannya selama bertahun-tahun.
Paling fatal kalau vendornya sudah tidak ada lagi (misalnya: bangkrut). Ya, tamatlah sudah, tidak ada lagi yang bisa menambal lubangnya :)

Belum lagi masalah trojan/spyware — pernah kejadian ada “bom” yang disisipkan di software proprietary oleh CIA. “Bom” software tersebut kemudian menyebabkan ledakan pada jaringan pipa gas di Siberia. Kekuatan ledakannya sangat dahsyat (3 kiloton) sampai terlihat dari luar angkasa dan terdeteksi oleh jaringan satelit badan intelijen Amerika sendiri. Mereka sendiri sempat terkecoh & bingung, mengira ada ledakan nuklir di Rusia — tapi kok tidak ada terdeteksi radiasi radioaktif? Ternyata sebetulnya bukan ledakan nuklir, tapi adalah hasil sabotase mereka sendiri :)

Pada software open source, karena source code nya tersedia, maka kita bisa melakukan audit untuk meyakinkan bahwa software yang diserahkan tidak ada sisipan “bom” di dalamnya.

Jadi kalau kita serius dengan soal keamanan, lebih selamat menggunakan berbagai solusi open source yang ada. Semoga bermanfaat.

Chickenstrip

December 12th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

This has been my favorite comic strip for quite awhile now :)

The name itself already got me - Chickenstrip. Pure hilarity. Also it’s among my favorite food :)
Then the comic itself, it can be both clever & funny at the same time - without trying too hard at it.

Some of the strips are locally/Indonesian-themed, but this is a minority. Most should be enjoyable by anyone who have been in touch with IT in some way.

Now if you’ll excuse me, I gotta do my chicken dance now :D

Spread the word ! Let’s make more people know about this brilliant comicstrip.

Lifestream @ sufehmi.com

December 3rd, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Di zaman digital ini sangat mudah bagi kita untuk meninggalkan jejak di berbagai tempat. Blog, komentar blog, facebook, plurk, microblogs, mailing list, online forums, dan lain-lainnya. Ini amat menyenangkan, menemukan dunia yang sedemikian interaktif, instant - namun tidak hanya sesaat.

Karena jejak-jejak digital / lifestream ini terus tersimpan selama bertahun-tahun. Misalnya, saya masih bisa menemukan posting-posting pertama saya dalam b.Inggris, dan tentu saja b.Inggrisnya masih pada belepotan. Atau sisa-sisa ketersambungan saya dengan dunia BBS Indonesia, di milis seperti bemo-batavia dan lain-lainnya. Juga ada banyak di situs arsip seperti archive.org dan mail-archive.org

Nah, tapi sayangnya, memang jejak ini terpencar dimana-mana. Walaupun Google sangat banyak membantu untuk menemukannya, namun tetap tidak berhasil saya temukan semuanya. Di antara ratusan juta website di seluruh dunia, ada jejak-jejak saya yang terselip disana-sini.

Karena itu kemudian saya membuat situs Lifestream saya sendiri, yaitu lifestream.sufehmi.com

Situs ini mengumpulkan jejak-jejak digital saya di :

  1. Facebook : melalui jasa FriendFeed.com
  2. Kronologger.com : situs microblogging pertama di Indonesia. Biasanya saya kron via SMS.
  3. Plurk.com : melalui jasa baik FriendFeed.com lagi
  4. Komentar di berbagai blog : dilacak dengan bantuan dari CoComment.com

Situs Lifestreamnya sendiri menggunakan Wordpress Legacy, plus plugin Feedwordpress.

Plugin Feedwordpress akan “menyedot” feed RSS dari 4 sumber diatas. Dan lalu di posting di situs Lifestream saya yang berbasis Wordpress Legacy ini.

Hasilnya cukup menarik. Kini jejak-jejak saya jadi makin mudah ditemukan, karena terkumpul di satu tempat :)

Dulu saya sempat segan jika ingin berinteraksi di suatu tempat, karena tidak ingin kehilangan jejaknya. Kini, saya akan bisa selalu melacaknya kembali melalui Lifestream saya.

Sudahkah Anda mengumpulkan jejak-jejak digital Anda ?

Let’s lifestream !

NB: selagi menulis artikel ini, tidak sengaja menemukan posting jadul saya dulu di milis linux-aktivis.
OMG….. **umpetin muka di bawah bantal** :D

Saya menemukan juga paper saya mengenai eCommerce Indonesia, yang saya buat di tahun 2000

Menelusuri jejak digital / lifestream kita, memang menarik dan menyenangkan :)
Kini juga bisa dilakukan dengan cepat, tanpa membuang-buang waktu kita.

CDN vs Dedicated servers : cutting through the hypes

December 2nd, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Several days ago I was having problems with my web infrastructure. It seems that it got overloaded. Traffic-wise, it should not; because (1) I got a caching reverse-proxy (squid) installed, and (2) 3 terabytes of traffic is still very well within its current capacity.

Of course, other factors may change this equation, for example, when you have database-intensive pages. In this case, even several requests per minute may already be enough to overload your servers.

Anyway, I notified the parties affected by this and started the troubleshooting process. Following the usual process of benchmarking, profiling, and optimization (BPO); soon I got all fingers pointing to squid. So tried several others, varnish, nginx, ncache; all failed - but this is for another post. This post is about hype and how even IT experts fell for it.

When doing the BPO process, I got in chat with several friends which are quite well-known as IT experts. Help is always welcome, so I followed through the discussions. The suggestions were rather strange though, but all was still well. Until one suggested me to move my infrastructure to a CDN (Content Delivery Network).

I almost snorted coffee through my nose :D
(I really should have it by IV drips to prevent this from happening again in the future, but anyway…)

A bit about CDN - it’s basically a network of servers all over the world, which hosts the same set of data. Then when a visitor requested the file, it will be served from the server closest to its location. So the visitor will be able to fetch the data with maximum speed.

That’s basically how a CDN works. There are variations, but this is the basic of it.

The problem with using CDN :

(1) CDN is for static contents : Facebook users probably have seen their browser’s status page showing lines such as “Loading static.ak.fbcdn.net”. That’s Facebook’s own CDN. Notice the first word at the beginning of the domain name? Yup, static.

There’s a reason why CDNs are for static contents. Static contents are easier to synchronize and deliver through the whole network. You can, indeed, synch and deliver dynamic contents through a CDN — but the level of complexity jumped by several magnitude at the instant. And so is the cost. Which brings us to the second reason,

(2) Cost : standard CDN will cost you at least 5x of your normal bandwidth costs.
SoftLayer.com brought a breakthrough in this case, where their CDN costs “only” twice the normal bandwidth.

However, it’s still 200% more expensive, and my web infrastructure hosts dynamic contents, which may change by the minute — so it’s absolutely out of the question.

If that friend is willing to foot the cost, then I’m willing to play with the CDN. It makes things more fun with none of the pain :)

Anyway, I’m still amazed at how even IT experts fell for hypes. I know CDN sounds cool & hip & sophisticated and so on, still, personally I prefer hard proof. Especially by proving any claim by myself.

But each to its own I guess. Just try not to misled others by spreading the hype too, okay?
Repeat after me - CDN is NOT a silver bullet. And as we all knew already, applying the wrong solution to a problem will just cause even more problems.

Regarding my problem, I solved it by moving squid’s cache to a different disk. Looks like the previous disk was defective. Including some further tweaks, the performance now almost doubled compared to before the trouble begun. Some of the websites fully loads in as little as 2 seconds. Not bad.

Performance-wise, it’s now alright. But my work still continue to further expand the capacity of my web infrastructure. For now, the customers are happy.

That’s what matters.

Linus Airways !

November 30th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83



Linus Airways !

Originally uploaded by hsufehmi

Here’s something you don’t see everyday - apparently, there’s an airline named Linus. And it’s an Indonesian company. How cool is that ?

Linus Torvalds might chuckle if he finds out about this :)

Sorry for the quality of the shot - I was late to realize it, and had only very little time to took the shot. If you can’t see clearly - the Linus Airways banners are the middle and bottom ones.

Linus Airways FTW !

Kronologger.com

November 28th, 2008

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/hsufehmi/tech.sufehmi.com/wp-includes/functions-formatting.php on line 83

Akhirnya saya bisa posting ke http://sufehmi.kronologger.com dari handphone, via SMS. Ternyata, selama ini saya salah, belum mengirimkan sms “reg kron” ke 3689. Alamak…. maklum, newbie sms :)

Nahhh… sekarang sudah bisa, jadi saya bisa rutin posting di kron. Karena itu, maka saya pasang widget Kronologger saya di blog ini.
Sekarang sudah muncul di sebelah kanan di sidebar di blog ini.

Selain itu, widget Tunas Cendekia juga sudah saya munculkan kembali. Sebelumnya widget ini lenyap karena blog ini di upgrade Wordpress nya — ini uniknya hosting di Dreamhost.com, upgrade blog jadi mudah, tapi template blog kita kadang jadi polos kembali, he he.

Oke, kembali ke Kron !